DESENTRALISASI
PENDIDIKAN
Jakarta, 18 Oktober 2011 saya Bambang
Sigit Desianto jurusan Manajemen Pendidikan Non Reguler 2010 menghadiri
perkuliahan Manajemen Pendidikan Nasional di ruangan 306 lantai 3 Gedung
Daksinapati FIP UNJ yang di pimpin oleh dosen MP yaitu Bapak Amril Muhammad, SE, M.Pd. Pada hari itu
saya memperhatikan teman dari kelompok 1 ( Barkah Agussalim, Putri Bagus Oktaviani,
dan Rahma Handayani ) yang mempresentasikan tentang “ Desentralisasi Pendidikan
“ .
Pertama, kelompok 1 menjelaskan pengenalan tentang
desentralisasi pendidikan
Pengenalan sekolah itu merupakan
universal, bahwa 1 sekolah itu mempunyai keputusan sendiri dalam menyediakan
pendidikan yang berkualitas, jadi artinya desentralisasi bukan putusan dari
pusat, tetapi merupakan keputusan sendiri. Bukan seperti sentralisasi, yang
berpusat.
Dalam sistem manajemen pendidikan untuk
sekolah, sistem yang baik itu adalah desentralisasi. Pepatah sederhana ini
merupakan cerminan dalam dukungan dan lembaga terkait ,termasuk organisasi
,ekonomi,budaya dan pembangunan (OECB).
Desentralisasi di bidang pemerintahan adalah pelimpahan wewenang dari Pemerintah Pusat
kepada satuan organisasi pemerintahan di wilayah untuk meyelenggarakan segenap
kepentingan setempat dari sekelompok penduduk yang mendiami wilayah tersebut.
Selanjutnya kelompok 1 menjelaskan bahwa Desentralisasi
mempunyai tujuan seperti :
1. Mencegah pemusatan keuangan
Adanya desentralisasi itu akibat
reformasi pada bidang pendidikan, yaitu karena adanya kekhawatiran tentang
ketidakmampuan negara terhadap tenaga kerja dan manajemen untuk menjadi
kompetitif secara internasional. Adapun faktor lainnya :
1. bahwa adanya keengganan untuk membayar lebih dan
efek porensial disinsentif pajak tinggi,pada
usaha yang produktif. Yaitu,karena bertentangan dengan tuntutan pengguna
layanan publik dan penerima manfaat kesejahteraan untuk perbaikan pendidikan.
2. Jika
belum terselesaikan secara politis, konflik ini memanisfestasikan dirinya dalam
inflasi dan memburuknya kinerja perekonomian. Kunci untuk menyelesaikan konflik
ini adalah membuat badan pelayanan publik yang lebih efisien dan bergesernya
biaya utk sektor swasta.
3. Kekecewaan terhadap kinerja sektor
publik (artinya oleh pemerintahan yang terpilih).
Kelompok 1 ini juga menjelaskan hal yang
menarik, yaitu cikal bakal desentralisasi pendidikan, seperti :
LEA ( Local Education Authority)
adalah otoritas pendidikan lokal, sistem ini digunakan oleh Inggris dan Wales,
memiliki tanggung jawab untuk otoritas pendidikan anak-anak. Undang-Undang Pendidikan 1902 (2 Edw.7, c.
42). Undang-undang ini ditunjuk setiap otoritas lokal, baik kabupaten dewan dan
dewan wilayah kabupaten ; akan mendirikan sebuah komite yang dikenal sebagai
Otoritas Pendidikan Lokal (LEA). Para dewan mengambil alih kekuasaan dan
tanggung jawab dewan sekolah dan komite petunjuk teknis di daerah. mereka
borough Kota dengan populasi 10.000 dan kabupaten kota dengan populasi 20.000
itu harus otoritas pendidikan lokal di daerah mereka untuk pendidikan dasar
saja. Peran leas 'itu lebih diperluas dengan pengenalan makanan sekolah pada
tahun 1906 dan pemeriksaan medis pada tahun 1907.
Pada tahun 1904 di London County
Council menjadi otoritas pendidikan lokal, dengan penghapusan Dewan London
School . Para borough metropolitan tidak otoritas pendidikan, meskipun mereka
diberi kekuatan untuk memutuskan di situs untuk sekolah baru di daerah mereka,
dan memberikan mayoritas anggota di dewan manajemen.
Sistem ini terus berubah sampai tahun
1965, ketika di London County Council digantikan oleh Greater London Dewan .
Dua puluh luarLondon borough menjadi otoritas pendidikan lokal, sementara baru
batin di London Pendidikan Authority , yang terdiri dari anggota GLC terpilih
untuk distrik batin meliputi mantan County London diciptakan.
Pada tahun 1974 pemerintah daerah di
luar London benar-benar direorganisasi. Di kabupaten metropolitan baru Inggris
, borough metropolitan menjadi leas. Dalam non-metropolitan kabupaten di dewan
daerah adalah otoritas pendidikan,
karena mereka di seluruh Wales .
Pada tahun 1986, dengan penghapusan
Greater London Council, sebuah batin yang dipilih secara langsung di London
Pendidikan otoritas dibentuk. Ini, bagaimanapun, hanya ada sampai 1990, ketika
12 dalam London borough menerima tanggung jawab untuk pendidikan.
Pada tahun 1989, di bawah
Undang-Undang Reformasi Pendidikan 1988 , yang leas hilang tanggung jawab untuk
pendidikan tinggi, dengan semua politeknik dan akademi pendidikan tinggi
menjadi perusahaan independen. Gelombang lebih lanjut dari reorganisasi
pemerintah daerah selama tahun 1990 menyebabkan pembentukan pemerintah kesatuan
di bagian Inggris dan di seluruh Wales , yang menjadi otoritas pendidikan
lokal.
Sebuah penghargaan otoritas lokal
pendidikan adalah penghargaan yang diberikan kepada otoritas pendidikan lokal,
sebagai lawan dari penghargaan yang diberikan oleh Lea. Manajemen LEA setelah
adanya reformasi, ditambahkan adanya manajemen bisnis di dalamnya, untuk
menutupi anggaran pendidikan yang tidak cukup, karena mengelola sendiri.
Secara tradisional, Inggris menganut
sistem pendidikan yang bersifat desentralisasi, di mana masing-masing wilayah
memiliki otonomi pendidikannya sendiri (LEA / Local Education Authority), dan
terkadang setiap sekolah dapat menentukan kurikulumnya sendiri. Hal inilah yang
menyebabkan mengapa di satu sekolah diajarkan pendidikan sosial dan vokasional
sementara sekolah yang lain hanya mengajarkan berbagai ilmu yang bersifat umum
saja, dan di sekolah lain tidak terdapat mata kuliah mengenai pendidikan
politik dan sosial. Kegiatan keagamaan serta misal harian di lingkungan sekolah
merupakan mandat dari Undang-undang Pendidikan (Education Act 1944) tahun 1944,
namun isi dari kegiatan tersebut diserahkan kepada LEA (masing-masing sekolah).
Pada kenyataannya, meskipun setiap sekolah memiliki kewenangan untuk menentukan
kurikulumnya, namun terdapat kesamaan dalam isi kurikulum di seluruh sekolah, hal
ini dikarenakan ujian nasional yang pada umumnya harus diikuti oleh siswa pada
saat berusia enam belas tahun, dan 30 persen dari siswa tersebut mendapatkan
nilai A. Sistem Ujian Pendidikan Umum Tingkat Menengah yang baru memungkinkan
untuk terjadinya berbagai kesamaan dalam berbagai bidang di seluruh sekolah di
Inggris. Sistem tersebut menggagas kurikulum inti nasional yang jika
diimplementasikan dapat mengurangi berbagai perbedaan yang terdapat di setiap
wilayah (LEA). Diperkirakan sekitar 90 persen dari keseluruhan jadwal sekolah
akan ditentukan oleh kurikulum inti nasional.
Lokal manajemen UK dalam konteks
internasional
Departemen pendidikan di Skotlandia ini lebih
berhasil daripada di Inggris dan Wales untuk mempengaruhi otoritas pendidikan
melalui kebijakkan, artinya di Inggris itu kan kerajaan bersifat korsevatif,
kaku karena kebijakkan oleh ratu. Jadi, kebijakkan di Skotlandia oleh sekolah ,
sehingga programnya lebih berhasil.
Bahwa konteks lokal manajemen
pendidikan sekolah di Inggris , mempengaruhi kecenderungan di internasional
terhadap desentralisasi keputusan manajemen di sekolah. Pada intinya, LEA walaupun kurang berhasil dalam
pelaksanaannya, kemudian setelah ada reformasi, kemudian digunakan lagi sistem
LEA tersebut, lalu konteks hubungan dengan dunia internasional itu banyak
menggunakan desentraslisasi manajemen di sekolah. Dan penerapannya pun di
berbagai negara.
Itulah sejarah LEA ,yaitu cikal bakal
sistem desentralisasi manajemen pendidikan yang di paparkan oleh kelompok 1.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar